Cerita Hari Ini

Hai, kamu. Lagi di mana?

Aku sedang menulis untuk buku pertamaku. Apakah kamu mau tahu apa isi ceritanya? Kalau iya, cepat pulang dan temui aku. Aku akan sangat senang bercerita mengenai isinya.

Apakah kamu sedang sibuk? Bekerja dengan tumpukan urusan administrasi memang membosankan, ya? Tapi aku tahu kamu akan terus begitu. Bekerja keras dan selalu bilang kalau pekerjaanmu itu asyik dan menyenangkan. Kamu memang selalu begitu. Selalu bilang kuat dan sehat.

Apakah kamu masih di dalam ruangan rapat? Aku sudah ingin meneleponmu nih. Gak sabar rasanya untuk bercerita tentang tes TOEFL-ku tadi sore. Kurasa, soa-soal listeningnya kok panjang-panjang ya? Padahal seharusnya tidak sepanjang itu. Aku harus mendengarkan 40 dialog sambil terus berusaha agar fokus pada isi pembicaraan mereka, eh malah pikiranku berbelok pada makanan dan jalan pulang.

Kamu masih mendengarkanku, kan? Agaknya akhir-akhir ini aku kangen sekali padamu. Masih kamu simpankah foto-foto saat kita bertemu bulan Desember lalu? Kadang-kadang aku suka melihat foto-foto kita dan tersenyum. Kamu kaku sekali dan aku tidak bisa berhenti tersenyum. Duh, sekarang sudah mau akhir Januari saja, ya. Waktu cepat sekali berlalu.

Hai, baju batik slim fit itu masih muat tidak di badanmu? Kamu bilang berat badanmu naik ya? Sepertinya nanti kalau kita ketemu nanti kamu akan berambah gemuk lagi ya? Hmm, andai aku bisa gemuk seperti itu, aku ingin sekali. Rasanya semua bajuku longgar semua. Ibuku juga bertanya-tanya mengapa badanku sangat kering. Well, maksudnya kurus begitu. Aku juga gak tahu. Mungkin nafsu makanku sekarang berkurang.

Aku sekarang baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir. Kamu kan tahu aku sangat bisa menjaga kesehatan dan gak pernah masuk rumah sakit. Tidak seperti kamu. Fisikku kuat meski badanku kurus. Kata ibu, dulu waktu kecil imunisasiku lengkap, jadi sekarang aku jarang sakit. Sekalipun sakit paling hanya demam dan sakit kepala. Aku bisa minum paracetamol dan langsung tertidur. Bangun dari tidur daan voila! Badanku segar kembali.

Mungkin aku harus khawatir kesehatanmu. Kamu harus banyak olahraga supaya banyak bergerak. Tidak baik begadang terus-terusan sampai pagi. Ya, aku tahu aku juga sering begadang. AKu cuma mau ingatkan kamu saja supaya mata belomu tidak bertambah belo dan lingkaran hitamnya makin lebar. Iya, aku tahu aku juga punya mata panda, dan akan aku kurangi, kok. Aku janji.

Hai, sudah dulu ya. Aku mau tidur. Jangan lupa gosok gigi dan bersihkan wajah sebelum tidur nanti ya. See you darl.

Ramai di Sini

Hari-hari berlalu.

Rasa sesalku makin menumpuk di dada.

Berjejalan dengan sesak dan benci.

Benci pada diri yang tak bisa keluar dari lingkaran keheningan ini.

Kepalaku ramai. Terlalu sunyi di sini. Sunyi tidak bisa mendengar bising di otakku.

Aku lelah mendengar keramaian di dalam sini. Aku butuh orang untuk mendengarkannya juga.

Aku takut kesunyian ini membunuh keramaian. Aku butuh ramai, aku takut sepi.

Teman-teman berdatangan silih berganti. Tak dapat mendengar keramaiannya juga.

Handai taulan dan para orang tua pun tak luput datang, namun telinga mereka lebih tumpul dari mata pisau 1000 tahun yang tak diasah.

Satu orang datang, sepuluh orang pergi. Jika kedatangan membuat harap, kepergian menambah luka.

Hai, aku masih sendiri. Ramai ini membuatku sunyi. Aku tak bisa hidup sunyi. Mereka meninggalkanku dalam kesunyian, sengaja mencampakkanku.

Aku ada untuk bersaing. Namun kalah. Kalah sebenar-benarnya kalah.

Mereka bertanya ada apa, padahal tahu apa jawabnya.

Mereka mengucap apa-apa, padahal tak ada satu pun benarnya.

Mereka mengetahui apa-apa, padahal berbuat yang lainnya.

Munafik.

Hai, aku masih di dalam keramaian yang sunyi. Tak ada satu pun yang dengar. Aku lelah.

Lelah jika sendiri mendengarnya.

Mereka terlalu banyak. Membuatku takut.

Kenapa Cuci Piring adalah Tugas yang Paling Menyebalkan

Hari ini lebaran hari ketiga. Rumah masiiiih sangat ramai oleh keponakan-keponakan kecil yang kerjaannya mencorat-coret dinding pakai krayon. Bertambah banyak anggota keluarga di rumah, bertambah juga dong porsi makanan, sehingga bertambah pula jumlah cucian piring (nah!).

Lebaran ini kita masak banyak sekali jenis makanan. Ya, meskipun pada akhirnya gak semuanya aku makan. Rendang, semur, ayam bakar, opor, ketupat, berbagai sayuran, dan masih banyak lagi.

Bahagianya kalau sudah liburan itu, makan bersama keluarga besar. Tapi, hal horor setelah itu adalah .. cuci piriiiiing!

Berbelas-belas piring dan teman-temannya mengonggok di situ menunggu digosok. Kenapa sih, menyebalkan sekali cuci piring itu? Memang sih, rumah kami tidak menyediakan mesin pencuci piring karena tidak mungkin dikabulkan oleh orangtua, tapi rasanya ingiiin sekali menghadirkan mesin itu di rumah.

Cuci piring adalah pekerjaan domestij paling menyebalkan karena aku harus menyentuh sampah-sampah bekas makanan itu. Daan kadang-kadang spons penggosok piring itu tidak pernah dibersihkan kembali oleh kakakku. Argh.

Jangan bilang aku berlebihan. Ini memang suatu ekspresi. Lalu, mau apa?

Telepon Itu …

Aku bergegas merapikan isi bawaan tasku. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan Rudi belum juga mengabariku. Kugenggam ponsel lalu berdering.

“Udah di depan kosan ya! Cepat turun!”

Aku langsung menuruni tangga. Di bawah sudah ada Rudi dan Adam. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil.

“Jadi, jam berapa dia take off?” tanya Rudi.

“Kupikir kamu sudah tahu, Rud!” kataku sedikit kesal.

Mereka tertawa. “Tenang saja, Lia. Jangan tegang gitu dong. Kita akan sampai sebelum dia berangkat, kok.”

Sial, aku dikerjain. “Gak lucu tau.”

Mobil pun meluncur. Kami mengobrol sepanjang perjalanan ke bandara. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Kami masih di perjalanan. Rudi memutar lagu-lagu di radio dan pikiranku sudah tidak karuan.

“Kamu bakal kangen sama dia, Lia?” tanya Adam melongok ke belakang. Mendapatiku sedang melamun.

“Enggak juga.”

Adam dan Rudi saling menatap mendengar jawabanku. Ada sedikit senyum di bibir mereka. Senyum ejekan tentu saja.

“Sudah, deh ya. Ngaku saja. Ya gak Rud?”

“Pasti. Hahaha.”

Aku diam saja.

“Jadi siapa yang kemarin bilang gak mau dibeliin ramen kesukaan, padahal biasanya gak bisa nolak, cuma gara-gara lagi gak mood. Jadi dia yang bikin kamu gak mood?”

Mereka tertawa keras sekali.

Suatu Malam

Ada SMS masuk. Nomor tidak dikenal, isinya: Halo, ini Lia ya? Seharian ini aku melihatmu di pameran buku. Kamu jaga booth ya, di sana? Aku akan mampir ke boothmu besok. Janji.

Siapa ini? Dia mengamatiku seharian ini? Apa dia penjahat?

Kutelpon nomornya tapi tidak aktif. Beberapa kali aku coba lagi, masih tidak aktif juga. Aku kesal karena merasa diikuti. Aku perhatikan sekeliling kamarku. Jaga-jaga orang itu tidak memasang kamera pengintai atau semacamnya. Beberapa detik kemudian aku merasa takut. Apalagi aku di sini sendirian sekarang. Nadia sedang tidak ada di kamarnya sampai tengah malam nanti. Tapi, aku yakin tidak akan ada apa-apa.

Ponselku berdering nyaring. Aku terkejut.

“Halo.”

 

 

 

#prolog

Prolog

Sudah lebih dari lima menit rasanya aku menatap pusara di depanku. Kakiku menginjak rumput, melangkah mendekati batu nisannya. Di sana tertulis nama yang paling aku rindukan saat ini. Nama yang dulu tak kusangka akan secepat itu tertulis di sini. Air mataku jatuh setitik demi setitik. Hatiku kosong. Rasanya sama seperti dulu ditinggalkan. Tapi kini aku tahu tidak ada yang akan kembali. Tidak ada yang akan kutunggu lagi.

Aku lalu mengusap batu nisan sambil mengucap salam. Bibirku bergetar, begitu juga dengan tanganku. Di depanku ada Adam. Dia memandangiku sendu sambil mencoba membuatku tabah.

“Yuk, kita baca surat yasin.” Katanya. Kami mulai membuka lembaran demi lembaran dan aku hanyut dalam semua kenangan. Bukan huruf-huruf Alquran yang kulihat, tapi wajahnya. Aku mengaji sambil menangis. Adam lalu menghampiriku.

“Sabar ya. Dia sudah tenang di sana. Kamu harus ikhlas, ya.”

Aku mengangguk saja. Sesudah membaca surat yasin, kami berjalan meninggalkannya.

Senja itu sendu. Aku harus pulang sekarang karena jadwal kereta. Singgah di pusaranya membuatku jatuh lagi ke dalam kubangan kesedihan.

Semuanya dimulai dari harapan. Adakah yang lebih menyakitkan dari mengharap pada manusia?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Green Mile

Satu langkah Paul  yang ia jejakkan di blok E mungkin tidak akan pernah ia lupakan sejak kedatangan John Coffey. Lelaki bertubuh besar, berkulit hitam, dan kepala botak itu menjadi sorotan semua tahanan. Bukan saja karena tubuhnya yang sangat besar dan kedatangannya yang sangat mengejutkan, namun juga ketika ia meminta Paul agar tidak mematikan lampu koridor saat tidur. “Aku takut gelap, apalagi di tempat yang asing untukku, Bos.

images (1)Hari-hari setelah Jhon Coffey datang di green mile, beberapa eksekusi kematian berjalan dengan biasa. Eksekusi kematian pada tahun 1935 diceritakan oleh Stephen King dengan sebuah kursi listrik yang mematikan. Listrik akan dialirkan ke seluruh tubuh setelah spons basah diletakkan di atas kepala sampai terdakwa meninggal. Namun, beberapa keganjilan yang dilakukan Coffey membuat cerita makin menarik.

Paham dengan seramnya hari eksekusi, Paul (Tom Hanks) menyadari bahwa ia dan rekan kerjanya di blok E harus menjaga agar tahanan di dalam blok selalu tetap tenang dan tidak berbuat kerusuhan. Paul kemudian menjadi sosok yang tenang dan berwibawa. Ia menjadi kepala blok yang bijaksana dalam mengambil keputusan.

Penonton mungkin akan keliru jika menilai Paul lah yang akan menjadi pemegang kendali cerita di film ini. Selain Del Delacroix dan Bill Wild, cerita dipegang kendali oleh sikap ganjil yang dilakukan Coffey. Paul diceritakan memiliki penyakit infeksi saluran kemih. Coffey, dari dalam sel tahanannya, dapat melihat itu dan menyembuhkan Paul dengan hanya memegang tubuhnya. Paul sangat terkejut ketika Coffey mengeluarkan butiran-butiran kotor dari dalam mulutnya. Ia telah mengeluarkan penyakit itu dari tubuh  Paul.

Kejadian-kejadian selanjutnya berkutat pada eksekuti mati satu per satu tahanan dan bagaimana Coffey menghidupkan kembali seekor tikus yang telah mati, bagaimana ia mengangkat penyakit kanker tumor seorang wanita, dan bagaimana ia lelah dengan suara-suara yang ada di pikirannya.

Aku sudah lelah, Bos. Aku lelah mengetahui suara-suara di luar sana. Aku lelah mengetahui bahwa manusia bisa sangat kejam terhadap sesamanya. Aku lelah merasakan kejahatan manusia dengan memanfaatkan kasih sayang mereka. Aku lelah, Bos.”

Bahkan, Paul sendiri tidak habis pikir siapa Jhon Coffey ini. Ia mencoba memahami kasus pembunuhan yang didakwakan pada Coffey dan menyesal bahwa kebenaran tidak terletak pada orang yang tepat.

Hingga pada hari setelah Coffey dieksekusi, Paul tidak dapat melupakan kejadian 1445326304yang ia sesali itu seumur hidupnya. Baginya, Coffey, menjadi sosok pengingat bahwa keajaiban bisa dimiliki oleh orang yang tidak disangka-sangka, dan, bahwa manusia bisa sangat kejam pada manusia lain.