The Green Mile

Satu langkah Paul  yang ia jejakkan di blok E mungkin tidak akan pernah ia lupakan sejak kedatangan John Coffey. Lelaki bertubuh besar, berkulit hitam, dan kepala botak itu menjadi sorotan semua tahanan. Bukan saja karena tubuhnya yang sangat besar dan kedatangannya yang sangat mengejutkan, namun juga ketika ia meminta Paul agar tidak mematikan lampu koridor saat tidur. “Aku takut gelap, apalagi di tempat yang asing untukku, Bos.

images (1)Hari-hari setelah Jhon Coffey datang di green mile, beberapa eksekusi kematian berjalan dengan biasa. Eksekusi kematian pada tahun 1935 diceritakan oleh Stephen King dengan sebuah kursi listrik yang mematikan. Listrik akan dialirkan ke seluruh tubuh setelah spons basah diletakkan di atas kepala sampai terdakwa meninggal. Namun, beberapa keganjilan yang dilakukan Coffey membuat cerita makin menarik.

Paham dengan seramnya hari eksekusi, Paul (Tom Hanks) menyadari bahwa ia dan rekan kerjanya di blok E harus menjaga agar tahanan di dalam blok selalu tetap tenang dan tidak berbuat kerusuhan. Paul kemudian menjadi sosok yang tenang dan berwibawa. Ia menjadi kepala blok yang bijaksana dalam mengambil keputusan.

Penonton mungkin akan keliru jika menilai Paul lah yang akan menjadi pemegang kendali cerita di film ini. Selain Del Delacroix dan Bill Wild, cerita dipegang kendali oleh sikap ganjil yang dilakukan Coffey. Paul diceritakan memiliki penyakit infeksi saluran kemih. Coffey, dari dalam sel tahanannya, dapat melihat itu dan menyembuhkan Paul dengan hanya memegang tubuhnya. Paul sangat terkejut ketika Coffey mengeluarkan butiran-butiran kotor dari dalam mulutnya. Ia telah mengeluarkan penyakit itu dari tubuh  Paul.

Kejadian-kejadian selanjutnya berkutat pada eksekuti mati satu per satu tahanan dan bagaimana Coffey menghidupkan kembali seekor tikus yang telah mati, bagaimana ia mengangkat penyakit kanker tumor seorang wanita, dan bagaimana ia lelah dengan suara-suara yang ada di pikirannya.

Aku sudah lelah, Bos. Aku lelah mengetahui suara-suara di luar sana. Aku lelah mengetahui bahwa manusia bisa sangat kejam terhadap sesamanya. Aku lelah merasakan kejahatan manusia dengan memanfaatkan kasih sayang mereka. Aku lelah, Bos.”

Bahkan, Paul sendiri tidak habis pikir siapa Jhon Coffey ini. Ia mencoba memahami kasus pembunuhan yang didakwakan pada Coffey dan menyesal bahwa kebenaran tidak terletak pada orang yang tepat.

Hingga pada hari setelah Coffey dieksekusi, Paul tidak dapat melupakan kejadian 1445326304yang ia sesali itu seumur hidupnya. Baginya, Coffey, menjadi sosok pengingat bahwa keajaiban bisa dimiliki oleh orang yang tidak disangka-sangka, dan, bahwa manusia bisa sangat kejam pada manusia lain.

 

Iklan

Cerita di Sekolah #1

Ini adalah cerita tentang bagaimana potret anak gadis sebagai seorang pengajar Bahasa Inggris di sekolah biasa saja, dengan anak-anak yang biasa pula. Meski begitu, kurasa pasti ada sesuatu yang bisa aku bagikan.

Hari ini hujan. Dari subuh. Sekolah dimulai pukul tujuh pagi didahului dengan pembiasaan membaca al-quran sampai pukul 7.30. Jarak antara rumah dan sekolah memang tidak jauh. Namun hujan ini membuatku takut kalau anak-anak bolos sekolah. Jika hujan lebat, sebagian besar anak-anak ini akan membuka sepatu mereka dan memasuki kelas dengan  kaki penuh lumpur. Tidak peduli siapa yang piket, tidak peduli siapa yang akan membersihkan jejak mereka. Yang mereka tahu, hanyalah masuk kelas, mengucapkan hadir ketika diabsen, dan menunggu bel ganti pelajaran.

Jika kamu membayangkan sekolah ini adalah sekolah favorit dengan murid yang cemerlang, maka dugaanmu salah. Jika kamu membayangkan sekolah ini memiliki guru yang lengkap dengan jadwal yang tersusun, maka kau sedikit keliru. Di sini, kau hanya menemukan sekumpulan anak-anak biasa yang bersekolah di tempat yang biasa pula.

Aku memutuskan untuk tetap keluar menerobos hujan menggunakan payung. Kasian sekali anak-anak ini jika menunggu di kelas tanpa guru, apalagi di tengah hujan begini, pikirku. Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di depan gerbang sekolah.

Langkah kakiku memasuki sekolah seolah tertahan. Dari depan gerbang dapat kulihat suara anak-anak sangat ramai. Mereka adalah para siswa kelas 8 dan 9, di lapangan sekolah, sedang bermain bola di tengah hujan deras.

Dadaku panas. Rasa simpati yang kubawa dari rumah terhadap anak-anak itu memudar dengan cepat, terganti oleh emosi hingga ke ubun-ubun. Wajahku merah dan siap melontarkan teriakan keras menyuruh anak-anak itu bubar.

Aku masuk ke dalam kantor dan menekan bel. Anak-anak yang bermain bola masih di lapangan. Beberapa dari mereka berlari ke kamar mandi ketakutan melihatku, beberapa lagi melanjutkan permainan bolanya. Sedangkan aku, sudah tidak mood mengajar.

Aku masuk kelas  sambil beristigfar. Lantai kelas sangat becek. Aku duduk di kursi dan melihat murid-murid di depanku dengan nanar. Emosiku mengubahku menjadi seseorang yang mudah menangis. Aku tahan-tahan saja sampai beberapa anak laki-laki masuk kelas dengan separuh celananya basah. Malah ada yang basah semua.

Satu hal yang ada di pikiranku saat itu adalah apa sih yang mereka pikirkan? Bagaimana mereka akan belajar kalau seragamnya basah semua?

Aku baca daftar hadir, baru ada delapan orang dari lima belas siswa di kelas 8. Sisanya itu berarti anak-anak yang bermain bola tadi. Aku memulai pelajaran dengan mengelus dada karena anak-anak ini tidak membawa kamus. Alasannya klasik: lupa.

Beberapa menit setelah materi berlangsung, tiba-tiba pintu diketuk. Satu anak dengan seragam basah kuyup meminta izin masuk kelas.

Aku diam menatapnya dan langsung ku suruh dia pulang dan mengganti baju. Jika tidak malu, silakan kembali ke sekolah untuk belajar. Anak itu mencoba mendebatku, namun suaraku yang tinggi membuatnya takut. Akhirnya, dia pulang.

Kegiatan sekolah berjalan sampai siang. Di pelajaran kedua, sebelum aku masuk kelas lain, kulihat anak itu memanggilku dan tersenyum. Ia mengacungkan sesuatu padaku di tangannya.  Itu adalah kamus Bahasa Inggris 1 Milyar Kata. Ia tidak lupa ternyata.

Rentang Jarak

Ada yang di samping saat senang,

Ada yang di samping saat sedih,

Ada yang tiba-tiba datang saat senang,

Ada yang tiba-tiba datang saat sedih,

Ada yang selalu di situ.

Yang tiba-tiba datang, hanya di samping dalam satu masa, senang atau sedih.

Yang sulit adalah bertahan,

karna ada rentang jarak di sana.

Di mana ia bisa saja berlari meninggalkanmu dan mencari kebahagiaan lain.

Tapi dia tetap tinggal. 

Yang sulit adalah bersyukur, 

karna selalu ada yang tinggal,

saat kita sedih dan senang.

Baru kusadari, terlalu banyak kata ‘sedih’ dan ‘senang’ di sini. 

Sebanyak itu waktu berjalan, mengatakan  pada kita bahwa rentang jarak tidak boleh disepelekan. 

You Make The Point, Then

Ada beberapa alasan kenapa akhirnya aku menuliskan ini di blog. Sebagai mahasiswa sastra dan bahasa, agaknya peristiwa penghinaan agama melalui karya sastra sedikit menggelitik. 

Di sini, aku gak akan membahas banyak tentang siapa itu Sukmawati dan bagaimana dia dilaporkan karena puisinya. Karena kawan-kawan pasti sudah membaca dan mendengar itu semua dari media yang lebih valid dan informatif. Tapi, aku hanya akan membahas sedikit saja dari sudut pandangku.

Pelaporan mengenai kasus penghinaan agama melalui karya sastra sebenarnya, ya, sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1968. Cerpen berjudul Langit Makin Mendung yang ditulis oleh Ki Panji Kusmin menjadi sangat viral saat itu karena mengisahkan peristiwa Nabi Muhammad yang bermi’raj kembali. Ki Panji Kusmin di sini melibatkan tokoh tuhan, malaikat jibril yang sudah tua, dan buroq yang menjadi tunggangannya. Cerpen ini lalu banyak mendapat protes dari masyarakat muslim. Karena dianggap telah menghina Islam karena menggambarkan sosok tuhan dengan semena-mena dan isi ceritanya yang tidak sesuai akidah Islam.

Kemudian, pada akhirnya, redaktur majalah tersebut, H.B. Jassin, diadili dan dikenai hukuman beberapa tahun karena tidak mau mengungkap identitas Ki Panji Kusmin. Sebagai ketua redaksi, ia bertanggungjawab penuh atas tulisan di majalahnya dan melaksanakan hukuman.

Pembacaan puisi oleh ibu Sukmawati beberapa waktu lalu gempar. Karena kepo, aku membuka video pembacaan puisi itu. Beberapa kalimat memang menyebutkan kosakata-kosakata yang “identik” dengan Islam.

Aku mulai memperhatikan bagaimana isi keseluruhan puisi itu. Jika disimak sekilas, mungkin muslim yang membacanya akan merasa terhina karena Ibu Sukmawati membandingkan sesuatu yang duniawi dengan sebuah kepercayaan manusia, agama. Sedangkan, bagi sebagian orang, agama adalah sesuatu yang absolut. Mutlak. 

Karena Indonesia memiliki Islam sebagai agama mayoritas penduduknya, maka hebohlah kita. Aku tak tahu, dan tidak ada yang tahu apa maksud persis dan niatan ibu Sukmawati memilih kosakata demikian.  Mungkin, karena media puisi adalah media yang sangat bebas. Di mana sebuah diksi bisa bermakna ganda. Di mana kosakata diobral sehingga kau dapat memoles sebuah kalimat dengan kata-kata puitis. Namun balik lagi, ini bukan masalah puitis atau tidak, ini menyangkut agama. Dan itulah yang membuatku kecewa. Mengapa unsur agama menjadi perhatian yang sangat besar di sini.

Kita butuh untuk tidak memisahkan unsur-unsur yang ada di dalam puisi ke dalam fungsi lain. Fungsi puisi sebagai kata-kata indah, yang menyenangkan pembacanya, dulce et utile. 

Ketika kita memisahkan fungsi menyenangkan dan bermakna sebuah puisi, maka puisi itu tidaklah lebih dari kalimat-kalimat biasa.  Yang menjadikannya indah yaitu polesan kosakatanya dan pilihan diksinya.

Taufiq Ismail pernah bilang bahwa dengan hanya membaca secara parsial, itu hanya akan membuat konflik. Jika hanya dilihat dari segi akidah, semua cerita akan menjadi sumber masalah. 

Pada akhirnya, apakah kita akan mengkonsumsi informasi secara parsial saja?

Kita belum melibatkan ahli dan membicarakannya dalam satu ruangan sekali duduk. Tidak perlu di meja pengadilan, cukup di tempat ngopi saja. Meskipun sekarang ibu Sukmawati sudah meminta maaf secara resmi, didampingi MUI pula, namun hal-hal semacam ini tidak mungkin tidak terulang. Mengingat, budaya memfilter informasi sangat lemah di Indonesia. 

Mungkin kita sudah memiliki orang yang berkompeten di Indonesia dalam hal kritik-mengkritik sastra. Namun, tempat mereka belum banyak sehingga yang muncul mendominasi di media ialah suara orang-orang yang kontra sedang demo. 

Aku kecewa karena video yang banyak beredar adalah video editan yang hanya menampilkan cuplikan pembacaan puisi Ibu Sukmawati dalam beberapa kalimat sahaja. Meski banyak juga mungkin yang menampilkan keseluruhan puisi, kukira jarang sekali.

Aku tidak berniat menggeneralisir kasus-kasus semacam ini, karena dua peristiwa itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat jauh. Namun, ada persamaan-persamaan hal yang kukira berulang di sini: sangat mudah menghakimi sesuatu.

Apakah muslim di Indonesia dapat sangat mudah melakukan aksi tanpa tahu duduk perkaranya. Karya sastra adalah media yang sangat bebas. Sangat bebas. Jika dulu opini-opini dilarang kolonial karena dianggap membuat propaganda penggerak kemerdekaan, maka mereka bergerak dengan sastra. Jika sudah banyak laporan penghinaan agama bersumber dari karya sastra, maka matilah negara ini dari dulu. Well, memang sekarang sudah bukan lagi masa kolonial. Tapi, ngerti kan yang kumaksud? ~

Semoga saja, di tahun-tahun berikutnya, di mana media makin mengganas, orang-orang makin kritis mengkritik, dan gawai menjadi senjata paling mematikan, terdapat kritikus yang solutif dan, tentu, nasionalis. Agar hal-hal seperti ini tidak terulang, konflik agama tidak terjadi lagi, dan toleransi bukan sekadar materi dalam buku PPKn. 

Pada akhirnya lagi, semua opini, semua suara, semua sudut pandang, kembali ke diri kita lagi. Siapa kita? Di mana kita menempatkan diri? Agamawan? Liberalis? Kritikus? You make the point, then.

Sedekat Itukah?

  1. Sudah tengah malam.
  2. Ada yang berteriak menyuruhnya tidur.
  3. Bulan mengintip di balik gorden.
  4. Ada yang berbisik memintanya merindu. 
  5. Bukan bulan, terlalu jauh.
  6. Bukan bintang, terlalu jauh.
  7. Ada hati yang berbisik, memintanya untuk merindu. 
  8. Hati yang jauhnya melebihi bulan dan bintang.
  9. Digenggamnya rasa itu, dikantunginya.
  10. Agar bisa dibawa sampai ke sekolah esoknya.
  11. Paginya dia terbangun.
  12. Melihat sakunya, menemukan rasa itu sudah mati.
  13. Tak berpijar lagi.
  14. Sedekat itukah?
  15. Waktu antara tidur dan bangun?
  16. Jarak antara huruf 12 dan 5 pada jam dinding?
  17. Dia sudah mati. Tak bisa berpijar lagi.
  18. Langkah ke sekolah pun hampa.
  19. Tapi tetap dibawa ke sekolah, ditaruh di laci meja.
  20. Berharap ada seseorang yang membuatnya menyala lagi.
  21. Sedekat itukah?
  22. Jarak antara harapan dan kekecewaan?
  23. Sampai ada yang melihatnya bersedih.
  24. Sampai dia tersenyum lagi.
  25. Rasa di dalam laci meja bersinar pelan.
  26. Menyinari buku dan lembaran kertas yang awalnya buram.
  27. Seseorang menyinari rasa itu. 
  28. Sedekat itukah, nasib seseorang?

Ah, Gak Disangka

Namanya Jun. Entahlah Jun apa lengkapnya. Dia punya kelainan jiwa yang membuatnya dijauhi oleh orang sekampung. Mungkin lebih kepada ditakuti karena dia suka main pukul kalau marah, atau mengejar-ngejar orang sambil berteriak kasar.

Tapi dia baik sekali kalau penyakitnya tidak kumat. Ia rela membantu apa saja, siapa saja, dan di mana saja. Angkat-angkat barang, membetulkan genteng bocor, membawakan belanjaan ke warung, dan pekerjaan kasar lainnya yang sangat dibutuhkan ibu-ibu di sini.

Waktu kecil, aku pernah menangis hebat gara-gara dia. Aku tengah bermain saat dia ngamuk-ngamuk. Ia melempar-lemparkan batu kecil di lapangan. Anak-anak kecil berlarian, termasuk aku. Tapi, hidungku terkena lemparan batu itu dan berdarah. Aku langsung pulang sambil menangis. Lalu setelah itu, ummi sangat marah padanya. Sejak itu pula, aku takut dan marah, tapi tak berani.

Minggu lalu saat siap-siap berangkat, seorang laki-laki di depan rumah mendekat takut-takut. Badannya yang kurus berjalan terseok sedikit menanjak ke beranda rumah. Kulit gelapnya terlihat kontras dengan matahari pagi yang ia belakangi. Sosoknya itu sudah lama sekali aku kenal. Tangannya tidak bisa diam. Digoyang-goyangkan, dimasukkan ke dalam kantong celana, dan sesekali menggaruk lagi rambut kusutnya.

“Ada Bapak?” Sambil menggaruk-garuk tangan yang aku kira gak gatal, dia menghampiriku. 

Aku menunjuk ke dalam rumah sambil nyengir-nyengir. Takut sewaktu-waktu dia menjawil tanganku. Jahil atau apa lah.

Ia lalu masuk ke rumah diiringi senyum umi. Aku gak tau dia ngapain aja di dalam. Tak lama, dia keluar rumah. 

“Makasih ya Jun, udah nengok Bapa.”

“Iyah, iya.” Lalu ia pergi. Dia berjalan menjauh dengan langkah ringan.

Kurang dari 5 menit dia di dalam rumah. Aku melihat punggungnya yang kekar-tapi kurus, menjauhi rumahku. Ia berjalan saja. Tanpa menengok lagi.

Pelan-pelan, ada rasa hangat menjalar di dadaku. Merambat sedikit-sedikit sampai membuat bibirku tersenyum. Hangat sekali rasanya. 

Mengenang Cak Nur (Bagian 2)

Aku masuk ke ruangan bersama Rizal. Seorang ibu tua dengan raut muka lembut meminta kami untuk duduk dan menunggu. Ia berlalu meninggalkan kami, yang sedang menerawang ke seisi rumah.

Ada figura berisi lima orang sedang tersenyum: tiga orang lelaki berdiri dan dua perempuan duduk. Ada jam dinding dengan bandul yang masih berfungsi jika waktu menunjukkan pukul 12. Tirai dan warna tembok berwarna putih diselingi hijau muda. Di atas tirai bertengger AC yang suda mati, kurasa. Karena empunya rumah memilih menggunakan kipas angin manual di pojokan sana. Kurasa juga. Rumah yang asri. Rumah yang ditinggalkan.

Ibu berjalan dari sebuah kamar. Daster jingganya menutupi seluruh tubuh rampingnya. Iya, ramping. Tidak kurus, tidak gemuk. Ibu menyapa kami dengan ramah, seperti bertemu anak sendiri. Kami menyalaminya. Detik itu, aku langsung paham. Inilah sosok penyayang di balik sosok Cak Nur.

Ibu berwajah kuning langsat. Rambutnya digerai sebahu. Tampak sedikit uban di atas kepalanya namun tidak menimbulkan pikiran berapa usianya? Wajahnya lembut seperti wanita Jawa pada umumnya. Gerak-geriknya lembut juga. Mungkin karena sakit tua yang diderita. Ia duduk di depan kami, di atas kursi kayu dengan bantalan kecil di belakang pinggangnya.

Aku bertanya kabar dan dijawabnya baik-baik saja. Lalu ia sedikit mengeluh pinggangnya sakit karena sering tidur. Aku tersenyum.

Ibu tertawa kecil. “Saya senang banyak yang meminta cerita pada saya. Ya sudah saya bikin buku saja. Cerita bapak ada di situ semua.

“Tapi saya gak keberatan kalau cerita lagi. Senang malah. Bapak itu banyak yang kenal. Banyak yang datang juga ke bapak. Dari mana-mana. Ngajak ngobrol, diskusi. Saya biarkan saja bapak banyak kedatangan tamu. Suatu hari, saya berdua saja dengan bapak. Anak-anak sudah besar. Sudah bepergian dari rumah. Saya bicara pelan dan lembut padanya …

Bapak banyak tamu, ya jaga badannya. Jaga istirahatnya. Banyak orang baik, banyak juga yang gak baik. Hati-hati sama janji atau penawaran, pak. Kita ya begini saja hidup. Damai.”

“Bagaimana respon bapak, Bu?”

“Ya begitu saja, diam. Saya tau dia berpikir.”

“Mereka tidak mengambil apa-apa dari hidup. Kita hidup untuk orang lain. Kemaslahatan orang lain. Buat apa hidup untuk memikirkan begitu, yang tidak maslahat.”